Jumat, 21 Oktober 2016

Belajar Sejarah Dari Pemakaman Ereveld Ancol


Pintu Gerbang Ereveld Ancol

Pada tanggal 17 September 2016, saya ikut trip ke pemakaman Ereveld yang diadakan oleh klub sejarah dan museum (SEMU), sebagai salah satu klub di Backpacker Jakarta yang dalam kegiatan selalu mengadakan trip ke tempat bersejarah dan museum.

Ereveld Ancol adalah sebuah kompleks pemakaman Belanda untuk warga militer dan sipil Belanda dan  beberapa orang Indonesia yang tewas dalam Perang Dunia Kedua, terutama pada saat serangan Hindia Belanda oleh Jepang dan selama pendudukan Jepang di Indonesia, baik dalam pertempuran maupun karena dieksekusi Jepang.

Ereveld artinya ladang kehormatan dalam bahasa Belanda, ada di beberapa negara, termasuk di Indonesia. Dahulu di Indonesia ada 22 Ereveld yang tersebar di beberapa kota. Pada 1945 Presiden Soekarno meminta agar semua makam Belanda dipusatkan di Pulau Jawa sehingga kini tersisa 7 buah yaitu Jakarta: Menteng Pulo, Ancol; Bandung: Pandu; Cimahi: Leuwi Gajah; Semarang: Kali Banteng, Candi dan Surabaya: Kembang Kuning

Ereveld Ancol diresmikan tanggal 14 September 1946 dan dikelola oleh *Nederlandse Oorlogsgraven Stichting* (Yayasan Belanda untuk Permakaman Perang). Di Ereveld Ancol sebelum area pemakaman terdapat lambang Nederlandse Oorlogsgraven Stichting.


Oorlogsgraven Stichting

Ereveld Ancol berlokasi di tempat wisata taman impian jaya Ancol. Kami berkumpul di halte busway Ancol sebagai tempat pertemuan menuju Ereveld, naik bis wara wiri arah utara turun di pantai indah atau gondola untuk transit. Selanjutnya naik bis wara wiri arah selatan turun di mal Ancol Beach City (ABC). Dari mal ABC jalan kaki sekitar 1 km untuk ke Ereveld.

Berkunjung ke Ereveld Ancol merupakan kunjungan berkelanjutan yang dilakukan SEMU setelah beberapa bulan sebelumnya mengunjungi Ereveld Menteng Pulo di Menteng Dalam, Tebet. Ketika kami datang, kami disambut dengan baik oleh pihak Ereveld pak Dicky Purwadi dan tim. Sebelum memulai trip pak Dicky melakukan perkenalan dan sedikit pengarahan.


Perkenalan sebelum memulai trip

Ereveld Ancol berada 50 cm di atas permukaan air laut. Sebelum renovasi kubur di musim penghujan sering kebanjiran. Pada tahun 2007 dibangun tanggul baru yang membuat Ereveld Ancol bebas banjir sedikitnya selama 30 tahun.

Tanggul

Penataan makam di Ereveld Ancol yang memiliki luas sekitar 3 hektar disusun dengan rapi dibagi beberapa kavling. Bentuk nisan yang berbeda-beda menandakan agama yang dianut orang yang dimakamkan  seperti Kristen, Islam, Budha. Nisan yang awalnya dari kayu diganti dari beton supaya lebih tahan lama. Makam di Ereveld ada 1546 yang berasal dari korban perang antara kurun waktu 1942 - 1945.

Pada nisan ada tulisan "Geexecutereed" dalam bahasa Belanda yang artinya dieksekusi yang menerangkan tempat di eksekusi. Tempat eksekusi berasal dari beberapa wilayah di Indonesia seperti Mandor, Kendari, Berastagi, Banjarmasin, Lembang, Sanggau, Ledo, Bojonegoro, Ancol dan beberapa kota lainnya. Di belakang satu deretan nisan  ada tengara nisan yang menerangkan nama-nama orang yang dimakamkan. Ada yang satu makam terdiri beberapa jenazah dan ada juga yang di nisan di tulis "onbekenden" yang artinya orang tak dikenal.


deretan makam yang tersusun rapi

Jenazah yang dimakamkan di Ereveld Ancol bukan hanya orang Eropa, namun juga orang pribumi. Salah satunya adalah Prof. Dr. Achmad Mochtar, Direktur pertama lembaga Eijkman yang difitnah dan dieksekusi pada 3 Juli 1945 dan kuburnya baru ditemukan pada 2010.


Prof. Mochtar dituduh melakukan sabotase atas meninggalnya ratusan romusha pada tahun 1945 setelah disuntik vaksin tetanus. Karena tidak melakukan Prof. Mochtar menolak dengan tegas karena tidak bersalah, namun ia memilih menyelamatkan ilmuwan lainnya yang akan dieksekusi tentara Jepang jika ia tidak bersedia meneken surat pernyataan bersalah.

Setelah deretan nisan di bagian ujung Ereveld ada pohon Mindi sebagai tempat eksekusi. Ada sekitar 200 orang yang di eksekusi di pohon Mindi, yang dulu merupakan satu-satunya pohon besar yang tumbuh di tempat itu, kini menjadi pohon yang diawetkan.

Pohon Mindi tempat eksekusi

Pada batang pohon Mindi terdapat penggalan puisi karya Laurence Benyon (Binyon) berjudul “For the Fallen”. yang berbunyi:

Puisi di batang pohon Mindi

Tidak berapa jauh dari pohon terdapat monumen. Pada dinding depan Monumen terdapat tulisan “Hun geest heeft overwonnen” atau “Semangat mereka telah menang”. Di tempat ini korban pembantaian dikubur secara masal dan disemen. Setelah pencarian dan berdasarkan berbagai petunjuk lubang kubur digali, dikumpulkan kerangkanya, dan lalu dikubur kembali di tempat ini.

Monumen sebagai tempat pemakaman masal

Pemakaman Ereveld berbeda dengan dengan pemakaman pada umumnya, di Ereveld semua terawat dengan baik, rapi, bersih, tidak suram dan tidak menyeramkan. Dengan berkunjung ke Ereveld, kita bisa belajar sejarah dan menghargai para pejuang dan para korban perang. Jika ingin berkunjung ke Ereveld tidak dipungut biaya. Jam kunjung setiap hari dari jam 08.00 -17.00.


Taman di Ereveld

Menutup trip kami photo bersama di depan pintu gerbang Ereveld dan berpamitan ke pa Dicky seraya mengucapkan terima kasih untuk penerimaan yang baik dan informatif.

Photo bersama di pintu gerbang Ereveld

2 komentar:

  1. Bagus banget ceritanya.
    sangat informatif, belum kesana aja sepertinya sudah tau lengkap cerita dibalik Ereveld Ancol.
    thanks a lot sudah berbagi cerita dan menuliskannya.

    BalasHapus